Fobia dan Terapi

Nama   : Zia Zaidah
NPM   : 1C514673
Kelas   : 3PA11

Fobia Jarum Suntik (Trypanophobia)
Fobia merupakan perasaan takut irasional, berlebihan, dan bersifat terus menerus terjadap suatu objek atau situasi yang tidak menimbulkan bahaya. Salah satu fobia yang paling umum terjadi yaitu trypanophobia. Trypanophobia adalah ketakutan berelebihan terjhadap jarum suntik pada prosedur medis. Menurut American Psychiatric Association (APA), trypanophobia termasuk dalam kategori fobia spesifik yaitu blood-injury-injection phobia (BII) berdasarkan Dagnostic and Satistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV tahun 2010.
Berdasarkan DSM IV, fobia spesifik dijelaskan sebagai kondisi medis dengan symptom-simptom tertentu.fobia spesifik dibagi dalam 4 (empat) kategori :
a.       Fobia binatang
b.      Fobia terhadap lingkungan, misalnya ketinggian, petir, atau air
c.       Fobia terhadap situasu tertentu, misalnya naik pesawat terbang, berada dijembatan, elevator atau mengendarai sesuatu.
d.      Fobia blood-injection-injury (BII)
Metode paling efektif untuk meangani penderita trypanophobia adalah secara psikologis tanpa obat-obatan yaitu dengan desentisasi sistematik
Desentisasi Sistematik
Wolpe mengungkapkan bahwa teknik desensitisasi sitematis merupakan salah satu teknik perubahan perilaku yang didasari oleh teori atau pendekatan behavioral klasikal. Desensitisasi sistematik memanfaatkan relaksasi otot secara mendalam untuk melawan kecemasan. Karena desensitisasi merupakan teknik yang paling berkembang dari sekalian teknik Wolpe dan yang paling erat dikaitkan dengan namanya, maka merupakan satu-satunya terapi tingkah laku yang dibicarakan secara rinci.
Di awal terapi pasien dilatih untuk sehingga mampu mengendorkan setiap bagian otot utamanya secara sadar atau sengaja. Sebelum terapi dapat dimulai adalah menemukan bidang-bidang masalah individu serta situasi-situasi yang menimbulkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini didapat selama wawancara awal., lalu pasien bersama terapis menyusun satu atau lebih hierarki kecemasan di mana serangkaian situasi yang saling berhubungan diurutkan menurut tinggi-rendahnya kecemasan yang ditimbulkan.
Terapis meminta pasien untuk santai, kemudian membayangkan kehidupan sehari-harinya pada peristiwa yang menimbulkan kecemasan sambal tetap santai. Pasien mulai membayangkan peristiwa yang paling rendah sampai tinggi kecemasan yang timbul pada hierarki kecemasan yang sudah dibuat tadi, pasien disuruh untuk segera berhenti jika mereka benar-benar mulai merasa cemas. Kemudian mereka mengulangi adegan ini sampai mereka dapat membayangkan selama beberapa detik dan tetap berada dalam keadaan yang benar-benar santai. Apabila reaksi kecemasan terhadap adegan itu telah berhasil dihapus, maka mereka mulai ke adegan atau tingkatan selanjutnya. Penghapusan reaksi-rekasi kecemasan yang lemah  terhadap adegan perama digeneralisasikan pada adegan berikutnya, membuat penghapusan adegan ini lebih mudah dicapai, demikian selanjurnya sampai semua situasi yang menimbulkan kecemasan pada daftar hierarki kecemasan akhirnya dihapuskan.
  1. Teknik pelaksanaan disentisiasi sistematik
Disentisiasi sistematik meliputi 3  (Tiga) tahapan pelaksanaan (Wolpe, 1969; Redd et al 1979; Kanfer dan Philips 1970) yaitu:
1)      penyusunan hirarki kecemasan
2)      latihan relaksasi mendalam
3)      menghadapkan pasien yang rileks kepada stimulus yang menimbulkan kecemasan sesuai dengan hirarki (desensitization proper).
  1. Dasar teknik desentisasi sistematik
Dasar dari terapi desentisasi sistematik adalah azas counterconditioning dan reciprocal inhibition (Wolpe, 1969; Yates, 1970). ). Azas counterconditioning ialah bahwa respon cemas pada dasarnya dapat dihambat dengan menggantikan dengan suatu aktivitas yang berlawanan dengan respon cemas yakni relaksasi. Prosedurnya adalah dengan reciprocal inhibition yaitu membuat pasien melakukan respon rileks terlebih dahulu untuk kemudian secara bertahap ia dihadapkan pada stimulus yang menimbulkan kecemasan. Urutannya yaitu setelah pasien rileks ia dihadapkan pada stimulus pembangkit cemas yang paling lemah untuk beberapa detik. Jika penyajian stimulus itu diulang maka stimulus itu secara progresif kehilangan kemampuan untuk menimbulkan cemas. Kemudian secara berurutan stimulus yang lebih kuat disajikan.
Melalui disentisiasi sistematik, asosiasi yang sudah terbentuk ini berusaha dilemahkan (bahkan diputuskan), yakni melemahkan asosiasi jarum suntik yang terkesan mengancam/tidak nyaman hingga direspon dengan reaksi cemas atau rasa takut berlebihan oleh penderita karena adanya kenangan sebelumnya yang mengkondisikan hal tersebut. Dengan menghadirkan kondisi rileks terlebih dahulu sebelum menampilkan situasi yang menakutkan bagi penderita fobia jarum suntik, maka diharapkan asosiasi rasa tidak mengenakkan dari jarum suntik di tekan atau dilemahkan melalui relaksasi, dimana hal ini dilakukan dengan cara berulang-ulang sehingga secara berlahan-lahan reaksi cemas berkurang (melemah) hingga kemudian bisa di ubah/ di ganti menjadi reaksi nyaman.

REFERENSI
DSM-IV: Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders (1994), fourth edition, American Psychiatric Association.
Hall, Calvin, S., et al. (1993). Psikologi kepribadian 3 teori-teori sifat dan behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.
Kanfer, F. H., & Philips, J. S., 1970. Learning Foundations of Behaviour Therapy, John Wiley & Son, Inc.
Wolpe, J. (1969). The practice of behavior therapy. New York: Pergamon Press


Komentar