Nama : Zia Zaidah
NPM : 1C514673
ALIRAN – ALIRAN
DALAM PSIKOLOGI
A.
Psikologi Humanistik
Abraham
Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak dari Psikologi Humanistik.
Gerakan ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan
psikoanalisis, memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri
eksistensinya.
Psikologi
Humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Psikologi
Humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan
keunikan manusia. Menurut Psikologi Humanistik manusia adalah makhluk kreatif,
yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh
ketidaksadaran manusia.
Maslow
terkenal dengan teori hierarki,terdapat lima kebutuhan pada diri manusia,
meliputi :
1.
Kebutuhan –
kebutuhan fisiologis (the physiological
needs)
2.
Kebutuhan –
kebutuhan rasa aman (the safety needs /
the security needs)
3.
Kebutuhan –
kebutuhan rasa cinta dan memiliki (the
loves and belongingness needs)
4.
Kebutuhan –
kebutuhan akan penghargaan (the
self-esteem needs)
5.
Kebutuhan –
kebutuhan akan aktualisasi diri (the
self-actualization)
Kebutuhan-kebutuhan
tersebut dikatakan berhirarki karena kebutuhan yang lebih tinggi menuntut
dipenuhi apabila kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah sudah terpenuhi.
Menurut
Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya
pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat
manusia, selain mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak
nampak ; mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran. Intropeksi
sebagai metode penelitian yang telah disingkirkan, harus dikembalikan lagi
sebagai metode penelitian psikologi. (Walgito, B. 2002; 78).
Ada
empat ciri psikologi yang berorientasi humanistik, yaitu ;
1.
Memusatkan
perhatian pada person yang mengalami,
dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam
mempelajari manusia.
2.
Memberi tekanan
pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreatifitas, aktualisasi
diri, sebagai lawan pandangan tentang manusia yang mekanistik dan
reduksionistis.
3.
Menyandarkan diri
pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dan
prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan
4.
Memberikan
perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat
manusia serta tertarik pada perkembangan emosi yang inheren pada setiap
individu. Selain Maslow dalam Psikologi Humanistik, juga Carl Rogers
(1902-1987) yang terkenal dengan client-centered-therapy (Walgito, B. 2002:
80).
B.
Psikologi Behavior
Aliran
ini timbul di Rusia yang dipelopori oleh Juan Petrovich Pavlov, fokus utama
dalam aliran behaviorisme adalah perilaku atau tingkah laku manusia yang
didasari dengan kesadaran. Tokoh – tokoh yang terkenal dalam aliran Psikologi
Behaviorisme adalah
1.
Juan Petrovich
Pavlov (1849-1936)
Pavlov ingin meneliti
psikologi secara objektif, yaitu dapat diobservasi secara nyata, karena menurut
Pavlov kesadaran tidak dapat diobservasi secara langsung. Pavlov menolak
menggunakan metode intropeksi, karena tidak dapat diperoleh data yang objektif.
Ia mendasarkan eksperimennya pada keadaan yang benar-benar dapat diobservasi.
Dalam eksperimennya ia menggunakan anjing sebagai binatang percobaan. Anjing
dikondisikan sedemikan rupa, sehingga apabila air liur keluar dapat dilihat dan
dapat ditampung dalam tempat yang telah disediakan. Apabila anjing lapar dan
melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur, ini merupakan respons yang
alami, respons yang reflektif, Pavlov menyebutnya dengan respon yang tidak
tekondisi.
2.
Edward Lee
Thorndike (1874-1949)
Penelitian thorndike
terhadap tingkah laku binatang mencerminkan prinsip dasar proses belajar yang
dianut oleh Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar adalah asosiasi. Dari
eksperimennya, Thorndike mengajukan tiga macam hukum yang sering dikenal
sebagai hukum primer dalam belajar, yaitu :
·
Hukum kesiapan
Belajar
yang baik memerlukan adanya kesiapan dari organisme yang bersangkutan.
·
Hukum latihan
Menurut
Thorndike hukum latihan ini ada dua aspek, yaitu :
1)
The low of use,
yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus respon akan menjadi
kuat apabila ada latihan atau sering digunakan.
2)
The low of disuse, yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan
antara stimulus dan respon akan menjadi lemah apabila tidak ada latihan.
·
Hukum efek
Yaitu
hukum yang mentakan hubungan antara stimulus dan respon menjadi kuat atau lemah
tergantung pada hasil yang menyenangkan atau tidak.
Tetapi kemudian Thorndike
memperbaharui pendapatnya tentang hukum efek dengan mengatakan bahwa reward
(pemberi imbalan) akan meningkatkan eratnya hubungan stimulus-respon. Karena
itu reward dan punishment tidak menunjukan efek yang simetris
3.
Skinner (1994-1990)
Untuk menjelaskan
teorinya skinner mengadakan suatu percobaan disebut proses conditioning
operant. Menurut skinner terdapat dua prinsip umur yang berkaitan dengan
conditioning ooperant, yaitu :
Setiap respon yang
diikuti oleh reward → ini bekerja sebagai reiforcment stimuli → akan cenderung
diulangi.
Reward atau reinforcment
stimuli akan meningkatkan kecepatan (rate)
terjadinya responden dengan kata lain, reward
merupakan suatu yang meningkatkan probabilitas respon.
4.
John B Watson
(1878-1958)
Eksperimen watson yang
paling terkenal adalah dengan anak bernama Albert berumur 11 bulan, Watson dan
Rosali Rainer istrinya mengadakan eksperimen kepada Albert dengan menggunakan
tikus putih dan gong beserta pemukulnya. Pada permulaan eksperimen Albert tidak
takut pada tikus, pada kesempatan lain saat Albert akan memegang tikus putih
gong dibunyikan dengan keras dengan suara keras tersebut Albert merasa takut
dan diulangi lagi lalu terbentuklah pada diri Albert rasa takut pada tikus
putih tersebut.
Tiga
ciri penting dalam aliran psikologi behaviorisme, yaitu :
1)
Menekankan pada
respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen-elemen perilaku,
2)
Menekankan pada
perilaku yang dipelajari daripada perilaku bawaan,
3)
Menurut Watson
tidak ada perbedaan antara hewan dan manusia.
C.
Aliran Psikoanalisa
Sigmund
Freud merupakan pendiri psikoanalisis. Menurutnya pikiran-pikiran yang direpres
atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang.
Freud memiliki pandangan secara lengkap sebagai berikut :
a.
Kesadaran dan
ketidaksadaran
Psikis terdiri dari
kesadaran (the conscious) dan
ketidaksadaran (the unconscious).
Kesadaran dapat diibaratkan sebagai permukaan gunung es yang nampak. Yang
diartikan bagian kecil dari kepribadian.
Ketidaksadaran yang
merupakan bagian kecil dari gunung es di bawah permukaan air mengandung
insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Menurut Freud kepribadian
terdiri dari :
Id : merupakan bagian primitif dari kepribadian, Id
mengandung insting seksual dan insting agresif.
Ego : disebut prinsip realitas, ego menyesuaikan diri
dengan realitas.
Super Ego : merupakan prinsip moral, yaitu mengontrol
perilaku dari segi moral.
b.
Insting dan
kecemasan
Freud menyatakan insting
terdiri dari insting untuk hidup (life
instinct) dan insting untuk mati (death
instinct). Life instinct mencakup
lapar, haus, dan seks, ini merupakan kekuatan kreatif yang disebut oleh Libido.
Sedamh Death instinct merupakan
kekuatan destruktif. Hal ini dapat ditujuan kepada diri sendiri, menyakiti diri
sendiri atau bunuh diri yang merupakan bentuk agresi.
Menurut Freud ada tiga macam kecemasan yaitu
·
Kecemasan objektif : merupakan
kecemasan yang timbul dari ketakutan terhadap bahaya nyata.
·
Kecemasan neurotic : merupakan
kecemasan atau merasa takut akan mendapatkan hukuman atas keinginan yang
impulsif.
·
Kecemasan moral : merupakan
kecemasan yang berkaitan dengan moral.
Pandangan lain dari Freud yang paling
penting adalah tentang mekanisme pertahanan (defence mechanism), yang bertujuan untuk menyalurkan
dorongan-dorongan primitif yang tidak dapat dibenarkan oleh super ego dan ego. Sembilan
mekanisme pertahanan yang dikemukan oleh Freud adalah :
1) Represi : Seseorang mengalami suatu peristiwa tetapi karena
pengalaman itu ternyata mengancam atau bertentangan dengan super ego, maka
pengalaman tersebut ditekan atau direpres masuk ke dalam ketidaksadaran dan
disimpan agar tidak mengancam super ego lagi.
2) Reaction Formation : Reaksi seseorang yang sebaliknya dari yang
dikehendai, agar tidak melanggar ketentuan dari super ego.
3) Projection : Super ego
melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap negatif terhadap orang lain,
maka ia berbuat seolah-olah orang lain yang mempunyai perasaan atau sikap
negatif pada dirinya.
4) Rationalisation : Dorongan yang
dilarang super ego, dicarikan rasionalnya sedemikian rupa, sehingga dapat
dibenarkan.
5) Supression : Upaya menekan
sesuatu yang dianggap membahayakan atau bertentangan dengan super ego ke dalam
ketidaksadarannya.
6) Sublimation : Dorongan yang tidak dibenarkan oleh super ego dialihkan
ke dalam bentuk perilaku yang lebih sesuai dengan norma-norma masyarakat.
7) Compensation : Untuk menutupi
kekurangan pada dirinya ia membuat prestasi yang tinggi dalam bidang tersebut
atau yang berkaitan dengan organ fisiknya.
8) Regression : Untuk
menghindari kegagalan atau ancaman terhadap egonya, individu mundur kembali ke
taraf perkembangan yang lebih rendah.
PSIKOTERAPI
Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara
pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu
merubah dalam hal tingkah laku, pikiran, dan perasaan pasien atau klien supaya
membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah
dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
ciri - ciri dari definisi mengenai psikoterapi ini
akan dijelaskan dalam uraian yang berikut :
- Interaksi Sistematis. Psikoterapi adalah suatau proses
yang menggunakan suatu interaksi antara pasien dan terapis. kata
sistematis disini berarti terapis menyusun interaksi-interaksi dengan
suatu rencana dan tujuan khusus yang menggambarkan segi pandangan teoritis
terapis.
- Prinsip – Prinsip
Psikologis. Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip, penelitian, dan
teori-teori psikologis serta menyusun interaksi terapeutik.
- Tingkah Laku, Pikiran,
dan Perasaan. Psikoterapi
memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan
behavioal, kognitif, dan emosional serta membantunya agar dapat menjalani
kehidupan yang lebih memuaskan.
- Tingkah
Laku Abnormal, Memecahkan Masalah,
dan Pertumbuhan Pribadi. Setidaknya
ada tiga kelompok pasien yang dibantu oleh psikoterapi. Kelompok pertama
adalah orang-orang yang mengalami masalah tingkah laku yang abnormal
(gangguan suasana hati, penyesuaian diri, kecemasan). Kelompok kedua
adalah orang-orang yang meminta bantuan untuk menangani hubungan-hubungan
yang bermasalah atau menangani masalah-masalah pribadi yang tidak cukup
berat untuk dianggap abnormal (seperti perasaan malu atau kebingungan
mengenai pilihan karir). Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencari
psikoterapi karena psikoterapi dianggap sebagai sarana untuk memperoleh
pertumbuhan pribadi.
Didalam
psikoterapi juga memiliki ciri-ciri yang lain, psikoterapi membutuhkan
interaksi verbal, karena pada dasarnya merupakan bentuk interaksi antara
pasien/klien yang melibatlan pembicaraan. terapis mendengar dengan teliti apa
yang dialami dan diusahakan oleh pasien untuk disampaikan pada terapis. tidak
hanya melibatkan interaksi secara verbal namun, juga melibatkan komunikasi nonverbal.
Seorang terapis harusnya peka terhadap isyarat-isyarat non verbal dari pasien
dan peka terhadap gerak isyarat yang mungkin menunjukkan perasaan-perasaan atau
konflik yang mendasar.
Ciri umum lain dari psikoterapi adalah
memberikan kepada pasien suatu perasaan akan harapan. Pasien pada umumnya
memasuki terapi dengan harapan memperoleh bantuan untuk mengatasi
masalah-masalahnya. terapis yang bertanggung jawab tidak menjanjikan
hasil-hasil atau menjamin "kesembuhan".
TERAPI-TERAPI
DALAM PSIKOLOGI BERDASRKAN ALIRAN PSIKOLOGI
- Asosiasi Bebas
Pasien diminta bersantai dengan berbaring di atas
dipan dan terapis berada dibelakangnya. kemudian pasien diminta untuk
menceritakan kepada terapis sesuatu (segala sesuatu) yang muncul dalam
pikirannya. dalam pertemuan awal psikoanalisis, Pasien mungkin mengalami
kesulitan besar untuk mencapai asosiasi bebas ini. kecepatan untuk
mengungkapkan perasaan-perasaan itu ada hubungannya dengan resistensi pasien
terhadap terapi. Asosiasi bebas juga tidak selalu berjalan teratur atau berurut
secara kronologis, dan mungkin terinterupsi dengan menghalangi atau menahan
asoiasi-asoiasi, dan dengan sengaja mengeluarkan hal-hal yang tdiak relevan dan
yang akan mengalihkan perhatian.
- Transferensi (Transference)
Transferensi terjadi apabila pasien memindahkan kepada
terapis emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak.
dalam pengalaman perawatan, emosi-emosi yang dipindahkan itu biasanya muncul
dalam wujud yang ringan dan diarahkan kepada analis. ketika prosedur terapi
berjalan, emosi-emosi ini bertambah kuat dan berlangsung lama. Terapis memakai
peran orang tua bagi pasien.
- Penafsiran
Penafsiran tidak lain daripada penjelasan dari
psikoanalis tentang makna dari asosiasi, mimpi, resistensi, dan transferensi
dari pasien. atau dapat dikatakan, penafsiran adalah setiap pernyatan dari
terapis yang menafsirkan masalah pasien dalam suatu cara yang baru.
- Person
– Centered Therapy
Terapi
ini disebut juga client-centered therapy (terapi yang berpusat pada pasien)
atau terapi nondirektif. teknik ini pada awalnya dipakai oleh Carl Rogers pada
tahun 1942. Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar
yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. gangguan
psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu
dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri.
Rogers
mengemukakan enam syarat dalam proses terapu person-centered yang harus
dipenuhi oleh terapis. rogers menyatakan bahwa pasien akan mengadakan respons
jika :
1.
Terapis menghargai
tanggung jawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri,
2.
Terapis mengakui
bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk
menggerakkkan dirinya ke arah kedewasaan serta independensi, dan terapis
menggunakan kekuatan ini dan bukan usaha-usahanya sendiri,
3.
Menciptakan
suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh di mana pasien dapat
mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang diinginkannya,
4.
Membatasi tingkah
laku tetapi bukan sikap,
5.
Terapis membatasi
kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi-emosi
yang sedang diungkapkan pasien yang mungkin dilakukannya dengan memantulkan
kembali dan menjelaskan perasaan-perasaan pasien,
6.
Terapis tidak
boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberikan penafsiran,
- Terapi Perilaku / Behaviour Therapy
Menurut Corey (1991) terapi perilaku ini memusatkan
terhadap masalah yang dirasakan pasien sekarang ini dan terhadap faktor-faktor
yang mempengaruhi, sebagai sesuatu yang berlawanan, di mana ada hal-hal yang
menentukan dalam sejarah perkembangan seseorang. terapi ini menitikberatkan
perubahan perilaku yang terlihat sebagai kriteria utama, sehingga memungkinkan
melakukan penilaian terhadap terapi meskipun proses kognitifnya tidak bisa
diabaikan. tujuan umum dari suatu terapi perilaku ialah membentuk kondisi baru
untuk belajar, karena melalui proses belajar dapat mengatasi masalah yang ada.
Sumber :
Basuki,
Heru. (2008). Psikologi umum. Jakarta:
Universitas Gunadarma
Gunarsa,
Singgih, D. (2007). Konseling dan psikoterapi.
Jakarta: Gunung Mulia.
Semiun,
Yustinus. (2006). Kesehatan mental. Yogyakarta:
Kanisius.
Komentar
Posting Komentar