CIRI - CIRI ANAK BERBAKAT
I.
Pengertian Anak Berbakat
Definisi keberbakatan yang
diadopsi dari US Office of Educatio (1971) adalah “Anak berbakat adalah mereka
yang diidentifikasi oleh orang – orang berkualitas professional memiliki
kemampuan luar biasa dan mampu berprestasi tinggi. Anak – anak ini membutuhkan
program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan diluar jangkauan
program sekolah yang biasa, agar dapat mewujudkan sumbangannya terhadap diri
sendiri maupun terhadap masyarakat. Kemampuan – kemampuan pada anak berbakat
tersebut, baik secara potensial maupun sudah nyata.
Menurut Depdiknas (2003),
anak berbakat adalah mereka yang oleh psikolog dan atau guru diidentifikasi
sebafai peserta didik yang telah mencapau prestasi memuaskan dan memiliki
kemampuan intelektual umum yang berfungsu pada taraf cerdas, kreativitas yang
memadai, dan keterkaitan pada tugas yang tergolong baik.
Keberbakatan (giftedness) dan keunggulan dalam kinerja
mempersyaratkan dimilikinya tiga cluster ciri-ciri yang saling terkait, yaitu:
kemampuan umum atau kecerdasan di atas rata-rata, kreativitas, dan pengikatan
diri terhadap tugas sebagai motivasi internal cukup tinggi. Oleh karena itu,
untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, ketiga karakteristik
tersebut perlu ditumbuhkembangkan dalam tiga lingkungan pendidikan, yakni
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keberbakatan merupakan
interaksi antara kemampuan umum dan atau spesifik, tingkat tanggung jawab
terhadap tugas yang tinggi, dan tingkat kreativitas yang tinggi (Renzulli dalam
hawadi, 2002)
A.
Ciri – Ciri Anak Berbakat
Renzulli, dkk )1981)
berdasarkan hasil – hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa keberbakatan pada
hakikatnya mencakup 3 kelompok ciri, yaitu :
1.
Kemampuan di atas rata – rata
2.
Kreativitas
3.
Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task commitment)
Masing
– masing ciri tersebut memiliki peran yang sama – sama menentukan :
-
Seseorang dikatakan memiliki bakat intelektual bila ia mempunyai
intelegensi yang tinggi atau memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam bidang
intelektual. Akan tetapi, kecerdasan yang tinggi tidak menjamin keberbakatan
seseorang.
-
Kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru,
kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam
pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru
atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
-
Pengikatan diri terhadap tugas ditunjukkan dengan ketekunan dan keuletan
seseorang dalam melakukan sesuatu walaupun mengahadapi macam-macam hambatan;
melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya atas
kehendaknya sendiri.
Ada
pula ciri-ciri anak berbakat menurut Martinson (1974) adalah sebagai berikut:
-
Gemar membaca pada usia lebih muda
-
Membaca lebih cepat dan lebih banyak
-
Memiliki perbendaharaan kata yang luas
-
Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
-
Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah “dewasa”
-
Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri
-
Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal
-
Memberi jawaban-jawaban yang baik
-
Dapat memberikan banyak gagasan
-
Luwes dalam berpikir
-
Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan
-
Mempunyai pengamatan yang tajam
-
Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas
atau bidang yang diminati
-
Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri
-
Senang mencoba hal-hal baru
-
Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi
-
Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah
-
Cepat menangkap hubungan-hubungan (sebab akibat)
-
Berperilaku terarah kepada tujuan
-
Mempunyai daya imajinasi yang kuat
-
Mempunyai daya ingat yang kuat
-
Tidak cepat puas dengan prestasinya
-
Peka (sensitif) dan menggunakan firasat (intuisi)
-
Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
Implikasi
dalam Pembelajaran (Teori Barbe dan Renzulli)
I.
Menjelaskan dan menerapkan teori
anak berbakat dari Barbie dan Renzulli
Menurut definisi yang
dikemukakan Joseph Renzulli (1978), anak berbakat memiliki pengertian, “Anak
berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang
menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan
rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.
High Potential Ability
(Kecerdasan Tinggi) Standard yang ditetapkan untuk anak berbakat oleh Diknas
tahun 2003 adalah 140 . Kalau hasil tes menunjukkan IQ anak mencapai 140 ke
atas, maka anak itu otomatis disebut gifted child. Tetapi kemudian muncul
pembagian tertentu untuk anak berbakat dilihat dari IQnya. Keberbakatan ringan
(IQ 115 – 129), keberbakatan sedang (IQ 130 – 144), keberbakatan tinggi (IQ 145
ke atas).
Task Commitment adalah
sejauh mana tanggung jawab dalam meyelesaikan tugas. Tidak hanya tugas dari
sekolah tapi juga tugas di rumah. Task commitment dapat diukur melalui tes
tertentu yang hanya boleh dilakukan oleh psikolog. Task commitment ini mencakup
tanggung jawab, motivasi, keuletan, kepercayaan diri, memiliki tujuan yang
jelas sebelum melakukan sesuatu dan kemandirian.
Kreativitas bisa diartikan
sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru atau kemampuan untuk membuat
kombinasi-kombinasi baru dari yang sudah ada. Kreativitas dapat dinilai dari 4
hal, produk, pribadi, proses dan pencetus / penghambat. Suatu produk dikatakan
kreatif kalau produk itu baru, berbeda dari yang sudah ada, lebih baik dari
yang lain dan tentu saja berguna. Sifat pribadi kreatif yang lain adalah
terbuka pada hal-hal baru, punya rasa ingin tau yang besar, ulet, mandiri,
berani mengambil resiko, berani tampil beda, percaya diri dan humoris.
Anak berbakat ialah anak
yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan
mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu
mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang
luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler
(Swssing, 1985).
Pengertian lain menyebutkan
bahwa anak gifted adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi
yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted
memiliki pandangan sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada
manipulasi lingkungan sesudah anak dilahirkan.
Anak yang memiliki bakat
istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat
hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, jika
sedang bermain ia terlihat seperti anak seusianya, tetapi jika sedang membaca
ia menampilkan sikap seperti anak berusia 10 tahun, jika mengerjakan soal
matematika ia seperti anak berusia 12 tahun, dan jika berbicara seperti anak
berusia lima tahun.
Perlu dipahami adalah bahwa
anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering
menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang
membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu
dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya
memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika
ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan
informasi.
Implikasi bagi guru anak
berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (1975) sebagai berikut:
-
Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya
dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru
melakukannya.
-
Guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan
-
Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan
perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak
-
Guru memberikan tantangan daripada tekanan
-
Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi
lebih-lebih proses belajar.
-
Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian harus
menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
-
Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang
rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko
dalam menentukan pendapat dan keputusan.
II. Peran Orang Tua dalam Memupuk Bakat dan Kreativitas Anak.
Orang tua yang bijaksana
dapat membedakan antara memberi perhatian terlalu banyak atau terlalu sedikit,
antara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya
dan memberi tekanan untuk berprestasi semaksimal mungkin.
Ada beberapa hal yang
memudahkan orang tua agar lebih mantap dalam menghadapi dan membina anak
berbakat (Ginsberg dan Harrison, 1977; Vernon, 1977) diantaranya adalah:
1.
Anak berbakat itu tetap anak dengan kebutuhan seorang anak. Jika ada
anak-anak lain dalam keluarga, janganlah membandingkan anak berbakat dengan
kakak-adiknya atau sebaliknya.
2.
Sempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya
3.
Berilah kesempatan seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunnya
dengan menjajaki macam-macam bidang, namun jangan memaksakan minat-minat
tertentu.
4.
Berilah kesempatan jika anak ingin mendalami suatu bidang, karena belum
tentu kesempatan itu ada di sekolah.
5.
Kerjasama Antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat
Pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama keluarga (orang tua), sekolah, dan masyarakat.
Keluarga dan sekolah dapat bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi
anak berbakat, misalnya dalam memandu dan memupuk minat anak. Tokoh-tokoh dalam
masyarakat dapat menjadi “tutor” untuk anak berbakat yang mempunyai minat yang
sama.
Kurikulum
Berdiferensiasi Untuk Siswa Berbakat
I.
Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Kurikulum
berdiferensiasi adalah kurikulum yang dirancang untuk anak berbakat untuk
memberi pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan
intelektual siswa. Satu hal yang perlu diingat adalah keberbakatan tidak akan
muncul apabila kegiatan belajar terlalu mudah dan tidak mengandung tantangan
bagi anak berbakat sehingga kemampuan mereka yang unggul tidak akan tampil.
Beberapa
unsur yang perlu diperhatikan mengenai kurikulum yang dapat dideferensiasikan
untuk siswa berbakat :
1.
Materi yang dipercepat atau lebih maju
2.
Pemahaman yang lebih majemuk dari generalisasi, asas, teori,dan struktur
dari bidang materi
3.
Bekerja dengan konsep dan proses pemikiran yang abstrak
4.
Tingkat dan jenis sumber digunakan untuk memperoleh informasi dan
keterampilan
5.
Waktu belajar dan tugas rutin dapat dipercepat dan waktu untuk mendalami
suatu topik atau bidang dapat lebih lama
6.
Mencipta informasi dan/atau produk baru
7.
Memindahkan pelajaran ke bidang-bidang yang lebih menantang
8.
Pengembangan dari pertumbuhan pribadi dalam sikap,perasaan,dan apresiasi
9.
Kemandirian dalam berfikir dan belajar.
II. Modifikasi Kurikulum
-
Modifikasi Konten Kurikulum:
Guru
menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkan bahan yang lebih canggih.
Contoh
: mengajukan pertanyaan yang menuntut siswa untuk berpikir abstrak.
-
Modifikasi Proses/Metode Pembelajaran:
Menggunakan
teknik pertanyaan tingkat tinggi,simulasi,buku-buku yang sesuai untuk anak
berbakat,menggunakan mentor,dan pemecahan masalah masa depan.
-
Modifikasi Produk Belajar:
Siswa
berbakat dapat menggunakan kemampuan mereka untuk mendalami topik dan
menunjukkan kreativitas dan komitmaen dalam merancang produk-produk divergen
berdasarkan pengalaman belajarnya. Anak berbakat dituntut untuk mampu
mengembangkan produk dan skala yang lebih luas,kompleks,dan produk-produk yang
dihasilkan berkaitan dengan kehidupan nyata.
Memilih
modifikasi yang sesuai:
Melakukan
setiap modifikasi yang ada guru dituntut untuk melakukan persiapan sebelelumnya
agar modifikasi yang dibuat dapat berhasil. Guru yang bijak akan mulai dengan
skala yang konservatif dan menanjak ke perubahan-perubahan setelah guru dan siswa
menjadi biasa dengan prosedur yang baru.
-
Modifikasi Lingkungan Belajar:
Lingkungan
belajar sangat menentukan keberhasilan belajar. Lingkungan belajar harus
memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar dan berfikir secara luas. Design
lingkungan belajar yang memang menghargai proseas belajar yang ada.
-
Rencana Kurikuler:
Banyak
cara yang dapat dilakukan dalam menyusun rencana kurikuler yang memungkinkan
semua siswa memperoleh pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan
mereka. Seperti : konten dapat dipercepat,dipadatkan,diperkaya dan diperluas.
-
Makna dari kurikulum Berdiferensiasi:
Dengan
mendiferensiasikan kurikulum siswa memperoleh pembelajaran yang bermakna yang
memberi dampak terhadap perkembangan intelektual dan kesehatan emosional siswa.
Kurikulum merupakan metode
menyusun kegiatan-kegiatan belajar mengajar untuk menghasilkan perkembangan
kognitif, efektif, dan psikomotorik anak. Menurut Sato (1982) kurikulum
mencakup semua pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah, di rumah dan dalam
masyarakat, dan yang membantunya mewujudkan potensinya.
Berbeda dengan kurikulum
umum yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada
umumnya, maka kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap
perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengna
kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus
meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang
menyamaratakan kemampuan seluruh anak.
Kendati demikian, pada dasarnya
kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi
dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan
pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman,
serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai
dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Berdasarkan penjelasan di
atas, Semiawan (1983) menyatakan bahwa bakat-bakat khusus baru dapat
dikembangkan atas dasar kurikulum ini. Di samping itu, untuk dapat mewujudkan
bakat yang khusus diperlukan juga pengalaman belajar yang khusus. Sehingga,
pendidik juga dapat mengetahui keberbakatan anak dan memantaunya sesuai dengan
kurikulum yang telah dideferensiasikan.
Lalu, Bagaimana Kurikulum
Berdiferensiasi Dapat Dikembangkan? Menurut Kaplan (1977), perkembangan
kurikulum dewasa ini menekankan penggunaan kurikulum secara fleksibel sesuai
dengan kebutuhan guru dan siswa yang memungkinkan keragaman cara untuk mencapai
sasaran belajar. Bahkan dalam kurikulum semacam ini tidak tertutup kemungkinan
bahwa siswa pada saat-saat tertentu merumuskan sendiri sasaran-sasaran
belajarnya.
Suatu kurikulum dapat
berdiferensiasi melalui materi (konten atau muatan), proses, dan produk belajar
yang lebih maju dan majemuk, serta dapat dirancang dengan cara sebagai berikut.
A. Kurikulum Berdiferensiasi Menyesuaikan dengan Kurikulum Umum
Menambah hal-hal baru yang
menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan menambahkan muatan
tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak berbakat.
Mengubah bagian-bagian
tertentu yang kurang sesuai. Karena anak berbakat memiliki kemampuan memahami
pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya pemberian
materi kepada anak berbakt lebih menyesuaika kemampuan anak. Sehingga, anada
beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima oleh
anak berbakat.
Mengurangi kegiatan-kegiatan
yang terlalu rutin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anak berbakat
memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan
anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat dikerjakan sendiri
dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
Meluaskan dan mendalami
materi. Karena sifat yang cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi
pembelajaran kepada anak berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam.
B. Kurikulum Berdiferensiasi dengan Menggunakan Kurikulum yang Baru atau
Khusus
Cara kedua ini adalah dengan
menggunakan kurikulum yang benar-benar berbeda dengan anak umum dan disesuaikan
dengan keberbakatan anak.
Untuk menyusun sebuah
kurikulum, pendidik harus mengetahui beberapa asas kurikulum sebagai berikut:
Berkaitan dengan mata
pelajaran. Yaitu, kegiatan bekajar dikaitkan dengan mata pelajaran atau materi
tertentu. Contohnya, ketika anak belajar bagian-bagian serangga, anak dapat
mencari sendiri serangga-serangga yang akan dipelajarinya di lingkungan
sekolah.
Berorientasi dengan proses.
Maksudnya, kegiatan belajar mengajar menekankan
perkembangan keterampilan dan proses berpikir daripada hanya materi. Contohnya,
ketika anak sudah mengenal bagian-bagian serangga, anak dapat menganalogikan
bagian-bagian tersebut dengan bagian-bagian kendaraan.
Berpusat pada kegiatan
aktif. Yaitu kegiatan belajar sepenuhnya mengikutsertakan anak secara aktif.
Sehingga, dapat menghidupkan suasana keilmuan yang penuh akan diskusi dan
saling bertukar pikiran.
Penerapan tugas berakhir
terbuka.Dengan asas ini tidak ada istilah “benar” dan “salah” dalam hasil tugas
siswa, tetapi seluruhnya berdasarkan pengalaman setiap anak.
Memungkinkan anak memilih.
Asas ini memberikan peluang kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhan, minat,
dan kemampuan masing-masing. Sehingga, sekolah seharusnya menyediakan sarana
atas minat dan bakat anak.
III. Tiga hal yang membedakan penerapan kurikulum berdiferensiasi dengan
kurikulum umum:
1.
Konten. Muatan atau materi yang diberikan kepada anak berbekat
berbeda-beda sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
2.
Proses. Proses belajar anak berbakat, entah itu waktu maupun caranya,
dibedakan dengan anak umumnya sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
3.
Produk. Dalam hal penugasan, anak berbakat diberikan beban produk yang
lebuh rumit dan kompleks daripada anak umum. Produk belajar itu sendiri dapat
berupa lisan, tulisan, ataupun benda.
Komentar
Posting Komentar