Pengembangan Kreatifitas dan Keberbakatan

Arti Belajar Kreatif
1.1.         Pengertian Belajar Kreatif
Banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi belajar kreatif.
            “Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif”. Munandar, 1995 : 12
            “Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang bau baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relative berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya”. Supriyadi, 1994 : 7
            “Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interkasi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “Belajar juga adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan suatu perubahan tingkah laku yang lebih baik secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Slameto, 2003 : 2
            Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya, jadi hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.
            Menurut Tornace dan Myres dikutip alam Triffinger (1980) dalam Semiawan dkk (1987;34) berpendapat bahwa belajar kreatif adalah menjadi peka atau sadar akan masalah, kekurangan, kesenjahangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tidak ada, ketidak harmonisan dan sebagainya. Mengumpulkan informasi yang ada, membataskan kesukaran atau menunjukkan unsur yang tidak ada, mencari tau jawaban, membuat dugaan sementara, mengubah dan menguji, menyempurnakan dan akhirnya mengkomunikasikan hasilnya.
            Sedangkan proses belajar kreatif menurut Torance dan Myres berpendapat bahwa proses belajar kreatif adalah “Keterlibatan dengan sesuatu yang berrarti, rasa ingin tahu dan mengetahui dalam kekaguman, ketidaklengkapan, kekacauan, kerumitan, ketidaklarasan, ketidak teraturan dan sebagainya.
            Dapat disimpulkan bahwa kreativitas belajar sebagai kemampuan seseorang menciptkan hal-hal yang baru atau menggabungkan pemikiran-pemikiran yang lalu dengan yang baru dan menjadikan sesuatu yang lebih baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belaja mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.
1.2.         Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pengajar yang profesional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas individu dalam belajar. Yaitu :
a.      Menciptakan Lingkungan yang Nyaman
-          Memberikan pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut perilaku kreatif sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima di kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
-          Pengaturan fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk berdiskusi membahas suatu materi yang diberikan.
-          Guru sebagai fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
b.      Mengadakan Tanya Jawab
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
-          Teknik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka.
-          Metode diskusi
Dalam metode dikusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada siwa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
-          Metode inquiri-discovery
Pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan  merumuskan  masalah (tahap kedua), pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari atau  menjajaki (searching). Pada tahap pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
-          Mengajukan pertanyaan yang provokatif
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.
c.       Menggabungkan Perkembangan Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan  mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan moral.
d.      Menggabungkan Pemikiran Divergen dan Pemikiran Konvergen
Pemikiran konvergen yang menuntut siswa mencari jawaban tunggal yang paling tepat berdasarkan informasi yang diberikan sudah tidak asing bagi siswa-siswa sekolah dasar. Pemikiran divergen atau pemikiran kreatif sebaiknya menuntut siswa mencari sebanyak mungkin jawaban terhadap suatu persoalan.
e.       Menggabungkan Proses Berfikir Dengan Proses Efektif
Contoh :
-          Berfikir lancar, gabung dengan rasa ingin tahu siswa yang rasa ingi tahunya kuat akan dapat menghasilkan gagasan-gagasan atau cara pemecahan masalah.
-          Orisinalitas dalam berfikir akan paling berhasil jika siswa tidak ragu-ragu dan berani mengamukakan pendapat yang berbeda dari biasanya dikemukakan siswa-siswa lain.
1.3.         Mengapa Belajar Kreatif Itu Penting ?
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1.      Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2.      Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3.      Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4.      Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
1.4.         Tiga Tingkat Belajar Kreatif (Model Trifingger)
Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) . Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen. Tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuk. Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut :
1.      Teknik-teknik kreatif tingkat pertama
Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan pada fungsi-fungsi divergen in antara lain menggunakan teknik pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan. Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama.
a.       Pemanasan
Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide. Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal
dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran
berikutnya.
b.      Pemikiran dan perasaan berakhir terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengakhiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling).
2.      Teknik-teknik kreatif tingkat kedua
pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif. Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik kreatif tingkat kedua, antara lain :
a.       Teknik analis morfologis
Merupakan gabungan teknik-teknik kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat. Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru.
b.      Teknik bermain peran dan sosiodrama
Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman dalam kehidupanya.
c.       Synectics
Teknik synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau gagasan-gagasan atas dasar pembandingan.
3.      Teknik kreatif tingkat ketiga
Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif. PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini.
Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini. Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran.

Mengajar Kreatif
2.1.            Pengertian Mengajar Kreatif
Jika strategi pembelajaran konvensional menekankan pada guru, pembelajaran aktif menempatkan lebih menekankan pada partisipasi aktif peserta didik dan kemampuan guru untuk melibatkan lingkungan peserta didik sebagai sumber belajar. Metode dan model pembelajaran aktif telah memberi motivasi yang lebih baik bagi peserta didik untuk belajar karena setiap siswa termotivasi dan terlibat dalam setiap langkah dari proses pengajaran. Mengaktifkan peserta didik menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya ditugaskan untuk menerima atau mendengarkan apa yang guru telah menjelaskan tetapi mereka harus terlibat dalam bertanya atau menjawab pertanyaan, bekerja dalam kelompok, membantu peserta didik lainnya, dan menunjukkan pemikiran kritis dan kreatif.
Guru Kreatif, Guru kreatif menggunakan segala sesuatu yang dia miliki untuk mengaktualisasikan pembelajaran aktif untuk memotivasi pelajar seperti pemikiran, fakta, dan ide-ide atau bahkan kombinasi pemikiran, fakta dan ide-ide. Guru kreatif mampu melakukan ajarannya proses belajar efektif dengan menggabungkan berbagai kontekstual instruksional bahan, strategi pengajaran, pembelajaran media dan pengalaman kehidupan nyata. kebutuhan peserta didik.  Kreatifitas guru sangat penting untuk memfasilitasi efektif belajar.
Singkatnya, guru kreatif menyediakan sebanyak ruang mungkin bagi peserta didik dalam pembelajaran desain untuk mengembangkan khususnya siswa kerangka pemahaman. Efektif strategi pengajaran terus diselidiki dan hasil penyelidikan dipekerjakan untuk mencapai kinerja maksimum dari peserta didik baik dalam dan keluar dari kegiatan kelas. Guru yang efektif tetap siswa terlibat dalam pelajaran dan menguasai mereka berbagai strategi pengajaran yang efektif (Moore, 2005; DBE2, 2010).
Strategi Pengajaran Yang Efektif, Pengajaran yang efektif membutuhkan strategi pengajaran yang efektif. pengajaran yang efektif strategi membantu peserta didik untuk menerapkan, menganalisis, dan mensintesis, untuk menciptakan pengetahuan baru, dan memecahkan masalah baru. Pedagogi transformatif telah membawa baru cakrawala dalam proses belajar mengajar di mana harus ada keseimbangan antara keterampilan kognitif dan keterampilan emosional.
Dalam rangka untuk mendapatkan yang terbaik dari belajar mengajar, Ramsdan (2012) menyoroti enam prinsip pengajaran yang efektif dalam pendidikan tinggi. Yaitu :
1)      Menarik dan jelas
2)      Kepedulian dan menghormati siswa dan pembelajaran siswa.
3)      Penilaian yang tepat dan umpan balik.
4)      Tujuan yang jelas dan intelektual menantang.
5)      Kemandirian, kontrol dan keterlibatan.
6)      Belajar dari siswa.
Merancang Instruksi Yang Memotivasi Peserta Didik Untuk Belajar Perencanaan instruksi penting bagi guru. Bahan ajar yang baik dapat memperoleh dan mempertahankan perhatian peserta didik dan membangkitkan motivasi belajar. Mengenai desain instruksi, desain Gagne (1985) masih diadopsi oleh para guru di seluruh dunia.
Langkah pertama adalah untuk mendapatkan perhatian. Langkah kedua adalah untuk menginformasikan pelajar tujuan. Langkah ketiga adalah untuk merangsang dan mengingat pengetahuan sebelumnya. Langkah keempat adalah untuk menyajikan materi. Langkah kelima adalah untuk memberikan panduan untuk belajar. Langkah keenam adalah untuk memperoleh kinerja. Langkah ketujuh adalah untuk memberikan umpan balik. Langkah kedelapan adalah untuk menilai kinerja. Langkah kesembilan adalah untuk meningkatkan retensi dan transfer.
2.2.            Teknik Mengajar Kreatif
a.      Melakukan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
b.      Pemikiran Dan Perasaan Terbuka
Teknik pemikiran dan perasaan berakhir terbuka ingin mengupayakan agar peserta didik terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertanyaan dan memungkinkan peserta didik mengungkapkan segala perasaan dan pikiran sebagai jawaban.

Menjelaskan strategi belajar kreatif
Strategi Pembelajaran kreatif yang diberi nama “Majelis” ini cocok digunakan untuk mata pelajaran TIK, IPA, Penjaskes, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama, Keterampilan, Seni Budaya, IPS, dan Matematika. Dasar pemikiran mengapa muncul strategi pembelajaran ini adalah sifat dasar alamiah manusia yang senantiasa ingin berkumpul dan bercakap-cakap, atau berdiskusi. Strategi pembelajaran kreatif majelis ini mudah dilaksanakan karena tidak memerlukan setting ruangan secara khusus. Selain itu, selama pembelajaran siswa dapat melatih kecerdasan emosional, kemandirian, berbicara, menulis, membaca, mendengarkan, bergerak, dan tentu saja bersenang-senang.
Melalui strategi pembelajaran kreatif majelis ini, setiap kelompok siswa misalnya diberi tugas untuk menggabungkan potongan-potongan informasi atau gambar menjadi sesuatu yang utuh dan bermakna. Melalui kegiatan pembelajaran yang menggunakan strategi “Majelis” ini, dapat diharapkan siswa menjadi aktif baik secara fisik maupun mental. Mereka pasti lebih suka menggeser-geser kartu dan mereka-reka kata, kalimat, atau simbol untuk membuat hubungan. Selain itu metode ini bagus untuk keterampilan mengurutkan, mengelompokkan,memilih dan mencocokkan. Mereka dapat diminta untuk saling berlomba untuk menjadi yang paling cepat menyelesaikan tugas. Hal ini dilakukan agar setiap kelompok menjadi lebih bersemangat dalam belajar.Strategi pembelajaran “Majelis” dapat divariasikan dengan membuat sistem kompetisi untuk kelompok siswa.

Menjelaskan dan Menganalisa Saran-Saran Tambahan dalam Belajar Kreatif
Untuk dapat mengatasi permasalahan dalam pembelajaran yaitu guru harus mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal penting dalam pembelajaran dan bahkan dapat menjadikan pintu masuk dalam upaya meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Perilaku pembelajaran yang dicerminkan oleh guru cenderung kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan guru dalam meninggalkan gagasan/ide dan perilaku yang dinilai mapan, rutinitas, usang dan beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan/ide dan perilaku baru itu terwujud ke dalam pola pembelajaran yang di nilai kreatif dan adaptif terhadap perubahan (Agung 2010:12). Mengembangkan kreativitas pembelajaran antara lain sebagai berikut :
a.      Merancang dan Menyiapkan Bahan Ajar atau Materi
Pelajaran Merancang dan menyiapkan bahan ajar/materi pelajaran merupakan faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran terhadap anak didik dapat berlangsung baik, rancangan dan persiapan bahan ajar/materi pelajaran pun harus baik pula, cermat dan sistematis. Rancangan atau persiapan bahan ajar/ materi pelajaran berfungsi sebagai pemberi arah pelaksanaan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat terarah baik dan efektif. Namun hendaknya dalam merancang dan menyiapkan bahan ajar/ materi pelajaran disertai pula dengan gagasan/ide dan perilaku guru yang kreatif (Agung 2010:54). Sejumlah hal dibawah ini mungkin dapat menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan gagasan/ide dan perilaku kreatif berkaitan dengan menyusun rencana atau persiapan mengajar (Agung 2010:54-55).
1.      Menentukan bahan ajar/materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik.
2.      Menentukan tujuan pembelajaran dari masing-masing bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan.
3.      Memilah bahan ajar/materi pelajaran yang dinilai sulit dan mudah diterima oleh peserta didik.
4.      Merancang cara pemberian dan membangkitkan perhartian dan semangat belajar siswa, melalui contoh, ilustrasi gaya bahasa yang di gunakan dan lain sebagainya.
5.      Merancang cara untuk menimbulkan keaktifan dalam pembelajaran siswa, berupa pemberian tugas mencari bahan ajar, eksperimen, stimulasi, diskusi, perkerjaan rumah dan sebagainya.
6.      Merancang cara pemberian pengulangan tehadap bahan ajar yang dinilai sulit melalui tes kecil, pemberian tambahan waktu belajar, pemberian tugas/perkerjaan rumah dan lain sebaginya.
7.      Merancang cara memberikan tantangan belajar yang perlu diatasi bersama oleh siswa, baik individual maupun kelompok, seperti menugaskan membaca dan menyimpulakn hasil, tugas, tugas kelompok, pengenalan lingkungan sekitar, memberikan tugas kliping Koran dengan tema sesuai dengan materi pelajaran dan memberikan kesimpulan dan lain sebagainya.
8.      Merancang cara untuk balikan dan penguatan, berupa tes kecil harian, pemberian tugas/latihan, pemberian jam pelajaran tambahan untuk penguatan dan sebagainya.
9.      Memperhatikan perbedaan karakteristik kemampuan siswa dan mengelompokkan ke dalam siswa pintar, sedang, dan kurang, serta perlakuan yang akan diberikan.
10.  Menyusun rencana kerja
b.      Pengolahan Kelas
Pengelolahan kelas harus sesuai dengan materim, tujuan, dan kebutuhan yang dihadapi. Guru dapat merancang pengelolahan kelas secara variatif untuk menghindarkan proses pembelajaran yang monoton, satu arah dan kering. Sebaliknya, pengelolaan kelas yang terencana dengan baik akan membawa suasana pembelajaran lebih menantang, menarik dan tidak membosabkan. Kreativitas guru dalam pengelolaan kelas (Agung 2010:56-57) :
1.      Mengkaji bahan ajar/materi pembelajaran yang akan disampaikan, tujuan pembelajaran.
2.      Mengkaji bentuk-bentuk pengelolaan kelas dan menentukan dengan kemungkinan penerapan sesuai dengan bahan ajar/materi pelajaran yang akan disampaikan, dalam bentuk klasikal/kelas, berkelompok, berpasangan, perseorangan atau lainnya.
3.      Memperhatikan hal-hal pengelolaan kelas terkait denganpemberian dan membangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, mengembangkan keaktifan dalam pembelajara, keterlibatan langsung peserta didik, pemberian pengulangan, pemberian tantangan belajar, pemberian balikan dan penguatan, serta perbedaan individual siswa.
4.      Mengidentifikasi permasalahan dan hambatan dalam pengelolaan dan kebutuhanruang/kelas, serta membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternative pemecahannya.
5.      Menyusun rencana kerja terkait pengelolaan kelas
c.       Pemanfaatan Waktu
Hal yang dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku kreatif dalam memanfaatkan waktu antara lain (Agung 2010:58-59) :
1.      Mengkaji rancangan/persiapan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
2.      Menyusun pembagian waktu pembelajaran berdasarkan jenis/bentuk pengajaran, misalkan penyampaian bahan ajar/materi pelajaran, diskusi, eksperimen, dan lain sebagainya.
3.      Merancang dan menyususun pembagian waktu untuk membangkitkan perhatian dan motivasi peserta didik, keterlibatan langsung, keaktifan, pengulangan, balikan dan penguatan, sampai dengan penambahan jam pelajaran.
4.      Mengidentifikasi permasalahan dan  hambatan yang muncul dalam upaya memberikan tambahan waktu belajar kepada siswa.
5.      Membahas dengan kepala sekolah dan rekan guru lain untuk mencari alternatif pemecahannya.
6.      Menyusun rencana kerja pemanfaatan waktu
d.      Penggunaan Metode Pembelajaran
Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang kreatif dalam menggunakan metode pengajaran, yaitu (Agung 2010:60-61) :
1.      Mengkaji bentuk metode pembelajaran yang ada.
2.      Mengkaji segenap hal terkait  dengan penggunaan metode pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran yang akan disampaikan, upaya membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian terhadap perbedaan karakteristik peserta didik.
3.      Merancang metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengunaannya.
4.      Membahas rancangan penggunaan bentuk metode pembelajaran dan menyiapkan fasilitas pendukung.
5.      Mencari bantuan ahli yang berasal dari dalam maupun luar sekolah (apabila diperlukan).
6.      Menyusun rancangan kerja pemanfaatan metode pembelajaran.
e.       Penggunaan Media Pembelajaran
Di bawah ini sejumlah langkah/tindakan yang dapat dilaksanakan oleh guru terkait dengan penggunaan media pembelajaran, antara lain (Agung 2010:62) :
1.      Mengkaji bentuk-bentuk media pembelajaran yang ada.
2.      Mengkaji segenap hal terkait dengan penggunaan media pembelajaran, mulai dari bahan ajar/materi pelajaran, tujuan pembelajaran, upaya membangkitkan perhatian dan semangat peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan balikan dan penguatan, sampai dengan perhatian perbedaan karakteristik peserta didik.
3.      Merancang dan membahas penggunaan media pembelajaran.
4.      Mencari bantuan ahli.
5.      Menyusun rencana kerja penggunaan media pembelajaran.
f.       Pengembangan Alat Evaluasi
Dibawah ini dikemukakan langkah-langkah atau tindakan yang mungkin dapat dilakukan guru dalam mewujudkan gagasan/ide dan perilaku pembelajaran yang kreatif berkaitan dengan pengembangan alat evaluasi tersebut (Agung 2010:63-65) :
1.      Mengidentifikasi jenis/bentuk tes berbagai alat evaluasi hasil belajar siswa/peserta didik serta kaidah-kaidah penulisan soal.
2.      Menentukan waktu evaluasi berupa tes/ulangan harian, mingguan, bulanan, cawu dan semester.
3.      Menentukan jenis/bentuk tes (uraian, jawaban singkat, isian, pilihan ganda, menjodohkan dan benar salah).
4.      Menetapkan jenis/bentuk tes yang telah dipilih.
5.      Mengidentifikasi permasalahan, hambatan dan kebutuhan berkenaan dengan penggunaan jenis/bentuk tes.
6.      Menentukan alternatif pemecahan permasalahan, hambatan dan kebutuhan yang dihadapi.

Referensi :
Basuki, Heru. (2005). Kreatifitas, Keberbakatan, Intelektual Dan Faktor-Faktor Pendukung Dalam Pengembangannya. Jakarta: Universitas Gunadarma

Komentar