Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan



TEORI-TEORI
     A.   Motivasi Intrinsi untuk Kreeativitas
Cara membangun hubungan baru dengan lingkungan agar menjadi individu sepenuhnya adalah dengan menunjukkan pribadi yang apa adanya secara tidak melebih-lebihkan. Dengan demikian tidak ada beban individu tersebut untuk bersikap yang tidak wajar atau tidak sebenarnya. Individu dapat sepenuhnya melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa adanya batasan pencitraan dirinya di hadapan lingkungan yang baru. Individu tersebut akan merasa nyaman, bahkan di dalam lingkungan yang baru.
Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis, atau jasmani manusia. Menurut Abraham Maslow ada lima kategori primer, yaitu:
          1.      Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya). Contohnya keinginan untuk makan dan minum.
          2.      Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya). Contohnya mengunci pagar dan rumah ketika malam hari.
        3.      Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki). Contohnya membina hubungan dengan lawan jenis.
       4.      Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan). Contohnya belajar lebih keras untuk dapat nilai yang bagus.
         5.      Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya). Contohnya berpakaian yang sopan ketika pergi kuliah.

      B.   Motivasi Ekstrinsik
Cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri individu (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya adalah dengan menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menciptakan suasana yang tidak mengandung efek mengancam/mengintimidasi, serta dengan memberikan pengertian secara empatis. Dengan suasana lingkungan seperti tersebut di atas, individu dapat merasa nyaman dalam mengembangkan kreativitasnya. Tidak perlu memaksakan individu untuk menjadi sesuatu (contohnya memaksa anak untuk menjadi dokter). Karena apabila individu tersebut sudah merasa terpaksa, motivasinya untuk melakukan sesuatu bukanlah dari dalam dirinya sendiri, akibatnya apa yang ia lakukan tidak sejalan dengan kreativitas yang ingin ia kembangkan.
Kreativitas tidak dapat dipaksakan, karena seharusnya kreativitas tumbuh dari dorongan individu sendiri. Agar terjadi harmonisasi antara kreativitas dengan minat bakat dari individu yang bersangkutan. Apabila dipaksakan, bukan tidak mungkin terjadi konflik batin pada individu tersebut, yang dapat berakibat berkurangnya kreativatas yang dimilikinya. Padahal boleh jadi kreativitas yang dimilikinya sangatlah besar. Akhirnya kreativitasnya hanya akan terbiarkan sia-sia.
Teori stimulus respon dan operant conditioning berkaitan dengan minat-bakat individu. Contohnya seorang anak yang sedari kecil memiliki bakat bermain sepak bola, dapat terlihat dari caranya mendribble bola. Apabila ia termotivasi untuk mengembangkan bakatnya, ia akan berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya dengan banyak berlatih, menonton pertandingan, mempelajari dan mempraktikkan teknik-teknik dalam sepak bola. Dengan demikian maka tubuh dan pikirannya akan terbiasa dan semakin terasah untuk bermain sepak bola. Maka minat dan bakatnya akan tersalurkan secara maksimal.

      C.  Teori-Teori yang Melandasi Proses Kreatif
a.      Teori Wallas
Teori Wallas, yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap yaitu, persiapan, inkubasi, iluminasi dan verifikasi. Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya. Pada tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi ialah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. Tahap iluminasi ialah tahap timbulnya insight atau“aha-erlebnis” saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru. Tahap verifikasi atau tahap evaluasi ialah tahap dimana idea tau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas.
b.      Teori Tentang Belahan Otak Kanan dan Otak Kiri
Hampir setiap orang mempunyai sisi yang lebih dominan maka dikatakan bahwa otak dikuasi oleh hemisfer yang bertentangan, pada umumnya orang lebih bisa menggunakan tangan kanan tetapi ada juga orang-orang yang bertangan kidal (left-hand), belahan otak kanan terutama berkaitan dengan fungsi kreatif sehingga terjadi “dichotomania”, membagi-bagi semua fungsi mental menjadi fungsi belahan otak kanan atau kiri.



BAB II
KEBERBAKATAN DAN KREATIVITAS
       A.   Pengertian keberbakatan
Keberbeakatan menurut para ahli belum menemui titik pengertian yang sama. Hagen dan Hollingworth (dalam Hawadi 2002) membedakan antara gifted dan talented. Gifted ditunjukkan pada individu yang memiliki kemampuan akademik tinggi, sedang talented ditunjukan pada individu yang memiliki kemampuan unggul dibidang seni, musik dan drama.
Menurut Cutts dab Musseley (1957 dalam Hawadi 2002) membedakan antara bright dengan gifted dan talented. Bright diartikan individu yang mampu menempuh pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas dan lancar dalam karier yang dipilihnya. Gfited diartikan individu yang memiliki potensi yang lebih tinggi daripada individu dengan tingkat bright, sedangkan talented mengarah pada individu yang memiliki kemampuan tidak lazim.
Penelitian Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago menunjukkan bahwa anak-anak dengan kemampuan tinggi yang luar biasa disemua domain, tidak hanya secara kademis tetapi juga dibidang seni rupa, musik, bahkan atletik. Sebetylnya secara sosial tidak padu dengan sebayanya. Mereka lebih banyak menyendiri, meskipun mereka memperoleh energi dan kesenangan dari kehidupan mental yang menyendiri iyu, mereka juga mengungkapkan bahwa mereka merasa kesepian (Fawzia, 2000).
Keberkatan merujuk pada kemampuan intelektual yang tinggi dan tercermin dalam IQ yang tinggi. Kemampuan yang tingi tersebut oleh beberapa ahli disebut gifted dan beberapa ahli lain menyebut genius. Ada pula yang menyebutnya superir dan bright. Kesemuanya memberikan pendapat keberbakatan hanya dari satu kemampuan saja yaitu kemampuan intelektual.
Pandangan ini dikategorikan pada pendektan yang menggunakan kriteria tunggal (uni kriteria). Pandangan yang terbaru memersepsikan keberbakatan tidak hanya dari satu segi sisi saja yaitu kemampuan intelektual tetapi juga dari segi lain atau kemampuan-kemampuan lain misalnya kreativitas, seni, olahraga dan lain-lain. Pandangan terakhir tersebut dikategorikan dalam pendekatan yang menggunakan kriteria majemuk atau multi kriteria.
Pandangan yang dapat dikategorikan multi kriteria adalah pandangan Renzulli, yang terkanal dengan nama ”Three Ring Conception” menyatakan bahwa keberbakatan merupakan keterpaduan yang bersinergi antar intelgensi (di atas rata-rata/IQ >120), kreativitas yang tinggi dan pengikatan diri terhadap tugas.
Secara umum “Keberbakatan dapat diartikan sebagai kemampuan unggul yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungan dengan tingkat prestasi dan kreativitas yang sangat tinggi.” dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa pertama,  keberbakatan merupakan suatu kualitas yang dibawa sejak lahir (dengan kata lain keberbakatan itu bersifat alamiah), dan kedua bahwa lingkungan keberbakatan adalah arena di mana anak berbakat memainkan peran di dalamnya.
Karena itulah dapat diartikan bahwa tingkat prestasi dan kreativitas yang tinggi dihasilakan dari interaksi yang terus menerus dan fungsional antara kemampuan dan karakteristik yang dibawa seseorang dari lahir dan yang diperoleh selama dalam kehidupannya.

      B.   Pengertian Kreativitas
Kreativitas memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Semakin kompleks daln peliknya problem kehidupan di dunia ini menuntut kita untuk senantias mengoptimalkan berbagai potensi yang Tuhan berikan. Di antaranya adalah potensi akal untuk dapat berpikir kreatif. Dengan kreativitas, manusia diharapkan akan mampu memecahkan berbagai persoalan hidup secara lebih efektif dan efisien.
Menjadi pribadi kreatif tidaklah didapat dengan tiba-tiba ketika seseorang telah dewasa dan dihadapkan pada aneka permasalah. Kreativitas memerlukan proses. Ibarat tanaman, kreativitas pun perlu dipupuk, disiram dan dirawat agar bisa tumbuh subur. Di sinilah peran orang tua dan pendidik untuk membantu anak-anak mengoptimalkan potensi kreatif-nya sejak dini sebagai bekal bagi mereka melalui suatu zaman yang berbeda dari saat sekarang.
Freedam (1982) mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan untuk memahami dunia, menginterprestasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara yang baru dan asli. Sedangkan Woolfook (1984) memberikan batasan bahwa kreativitas adalah kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan suatu masalah.  Guilford (1976) mengemukakan kreativitas adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir yang produktif, berdaya cipta berpikir heuristik dan berpikir lateral.
Berbeda pula dari pendapat Rhodes (Munandara 1987) yang mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan dalam 4P yaitu Person, Process, Press dan Product. Menurut rhodes, kreativitas harus ditinaju dari segi pribadi (person) yang kreatif, proses yang kreatif, pendorong kreatif dan hasil kreativitas.
Selo Sumarjan (1983) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang efektif dalam menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda dalam bentuk, susuna, gaya, tanpa atau dengan mengubah fungsi pokok dari sesuatu yang dibuat itu. Daldjoeni (1977) memberi pengertian tentang kreativitas tidak hanya kemampuan untuk bersikap kritis pada diri sendiri, tetapi juga kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dalam hal ini hubungan natara dirinya dengan lingkungan, baik dalam hal materi, sosial maupun psikis.
Dari pendapat beberapa para ahli dapat disimpulkan bawah kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru dan asli, yang sebelumnya belum dikenal ataupun memecahkan masalah baru yang dihadapi. Apakah hasil kreativitas itu menunjukkan hal yang baru? Beberapa ahli berpendapat bahwa kreativitas itu tidak harus seluruhnya brauy, tetapi dapat pula berupa gabungan yang sudah ada dan dipadupadakan dengan sesuatu yang baru.

     C.   Hubungan Antara Pengertian Keberbakatan dan Kreativitas.
Keberbakatan dan kreativtitas dapat ditungkan kedalam suatu bentuk karya yang unik yang dapat merubah pandangan ataupun persepi seseorang mengenai suatu keadaan.
Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak dari karakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkan pada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakat dan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjamin kebebasan psikologi untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkungan rumah, sekolah dan masyrakat. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam restasi yang unggul. 


Sumber :
Basuki, Heru. (2005). “Kreativitas, Keberbakatan, Intelektual dan Faktor-Faktor Pendukung dalam Pengembangannya”. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Diana, R. Rachmy. (2006). Setiap anak cerda! Setiap anak kreatif! Menghidupkan keberbakatan dan kreativitas anak. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro. 3,126.
Wahab, rochmat. Mengenal anak berbakat akademik dan upaya mengidentifikasinya. 1-2.


Komentar