BAB VI
MANUSIA DAN
PENDERITAAN
A.
Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal
dari kata derita. Kata derita berasal
dari bahasa sansekerta dhra artinya
menahan atau menanggung. Arti kata derita adalah menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak
menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.
Penderitaan termasuk
realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang
berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat
tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh
seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu
penderitaan merupakan dorongan atau motivasi untuk bangkit bagi seseorang, atau
sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Penderitaan akan
dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “risiko” hidup. Tuhan
memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan
penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna atau memiliki hikmah
agar manusia sadar untuk tidak memalingkan diri dari-Nya. Untuk itu pada
umumnya manusia telah diberikan tanda sebelumnya, hanya saja “mampukah manusia
menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikanNya?” . Tanda dapat
berupa mimpi sebagai pemunculan rasa tidak sadar dari manusia waktu tidur, atau
mengetahui melalui membaca koran tentang terjadinya penderitaan. Kepada manusia
sebagai homo religius Tuhan telah memberikannya.
Berbagai kasus
penderitaan terdapat dalam kehidupan. Banyak macam kasus penderitaan sesuai
dengan lika-liku kehidupan manusia. Bagaimana manusia mengahdapi penderitaan
yang dialami dalam hidupnya ? Penderitaan fisik yang dialami manusia tentulah
bdiatasi secara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya. Sedangkan
penderitaan psikis, penyembuhannya terletak pada kemampuan si penderita dalam
menyelasaikan soal-soal psikis yang dihadapinya.
B.
Siksaan
Siksaan dapat diartikan
sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau
mental. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan.
Siksaan yang sifatnya
psikis misalnya keseimbangan, kesepian dan ketakutan.
1.
Kebimbangan. Dialami
oleh seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan mana yang
akan diambil. Misalnya pada suatu saat apakah seseorang yang bimbang itu
memilih pergi atau tidak. Akibat dari kebimbangan seseorang berada dalam
keadaan yang tidak menentu, sehingga ia merasa tersiksa dalam hidupnya saat
ini. kembimbangan akan berlanjut atau tidak tergantung seseorang yang
mengalaminya lemah dalam berfikir untuk menghadapinya atau tidak.
2.
Kesepian.
Dialami oleh seseorang yang merasakan rasa sepi dalam dirinya sendiri atau
jiwanya walaupun ia dalam lingkungan yang ramai. Kesepian ini berbeda dengan
seorang petapa atau biarawan yang tempatnya memang sepi. Tempat mereka memang
sepi tetapi hati mereka tidak sepi. Kesepian juga merupakan salah satu wujud
dari siksaan yang dapat dialami oleh seseorang. Dalam mengatasi kesepian
seseorang memerlukan “kawan duka” adalah orang yang dapat mengertia dan
menghayati kesepian yang dialami oleh sahabatnya itu.
3.
Ketakutan.
Bila rasa takut dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya, maka disebut
sebagai phobia. pada umumnya orang
yang memiliki satu atau lebih phobia ringan seperti takut pada tikus, ular,
serangga dan lain sebagainya. Tetapi pada sementara orang ketakutan itu
sedemikian hebatnya sehingga sangat mengganggu.
C.
Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam
ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara sederhana kekalutan
mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan
seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga seorang yang bersangkutan dapat bertingkah laku secara
kurang wajar.
Gejala-gejala permulaan
bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
·
Tampak pada
jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
·
Tampak pada
kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah
marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
·
Tampak dalam
gejalas-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rokhaninya.
·
Usaha
mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara
bertahan hidupnya salah. Pada orang yang tidak mengalami gangguan jiwa dalam
memecahkan persoalan justru lekas memecahkan masalahnya bukan mundur atau lari.
·
Kekalutan
merupakan titik patah (mental breakdown) dan
yang bersangkutan mengalami gangguan.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental,
dapat disebutkan sebagai berikut :
·
Kepribadian yang lemah akibta jasmani atau mental yang kurang sempurna,
sering menyebabkan seseorang yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara
berangsur-angsur dan akan menghancurkan mentalnya.
·
Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan
apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
·
Cara pematangan batin yang salah
dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.
D.
Penderitaan dan Perjuangan
Penderitaan adalah
bagian dari jalan kehidupan manusia yang bersifat kodrati, karena itu terserah
kepada manusia itu sendiri untuk berusaha meminimalisir penderitaan itu
semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama sekali. Manusia
adalah makhluk berbudaya, dengn budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan
yang mengancam atau dialaminya.
Penderitaan memang
selalu hadir dalam kehidupan, tidak berarti hidup adalah menderita atau hidup
adalah untuk penderitaan. Namun “Hidup adalah Berjuang karena Hidup adalah
Perjuangan”. Jadi mau tidak mau kita selalu dituntut untuk terus berjuang dalam
hal apapun dan percayalah bahwa tidak ada sesuatu yang sia - sia. Setelah
perjuangan terlaksana dan pasrah kepada Tuhan. maka dari itulah gunanya
bersosialisasi, dengan bersosialisasi.
Kita dapat saling
membantu dalam susah maupun senang dengan sesama manusia dalam menyelesaikan
masalah dan menyelasaikan penderitaan yang dialami. Namun tidak hanya dengan
sesama manusia saja kita menyelesaikan masalah atau penderitaan tetapi dengan
Tuhan kita meminta pertolongan, dengan cara berdoa. Manusia hanya merencanakan
selebihnya adalah kehendak Tuhan.
Waspada terhadap
penderitaan wajar saja dalam berbagai hal namun tetap kita tidak dapat
menghindar dari penderitaan, satu-satunya jalan keluar adalah dengan
melewatinya. Hal ini nampak bila ditinaju jenjang karir sejarah orang-orang
besar disekitar kita yang benar-benar berhasil oleh karena usahanya sendiri dan
bantuan Tuhan.
Penyebab penderitaan
banyak disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
·
Hubungan tidak
baik antara manusia dengan manusia yang mengakibatkan penderitaan didasari rasa
dengki, iri, sakit hati, kejam, dendam serta alasan lain yang mendasari
perbuatan buruk manusia lain terhadap sesama.
·
Hubungan tidak
baik antara manusia dengan alam yang mengakibatkan bencana alam, kurang
kesadaran manusia dalam merwat alam dan lebih banyak merusak alam.
·
Keserakahan
hanya karena masalah uang sehingga terjadi berbagai bencana seperti longsor.
·
Manusia dituntut
kesetiannya disaat melalui suatu cobaan dan kepercayaannya kepada Tuhan tidak
akan memberikan suatu cobaan diluar batas kemampuan umat-Nya.
E.
Penderitaan, Media Massa dan Seniman
Dalam dunia modern
sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu sangat besar. Hal ini
dibuktikan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Penciptaan bom atom,
reakor nuklir, pabrik senjata, peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan
sumber peluang terjadinya penderitaan manusia
Beberapa sebab lain
yang menimbulkan penderitaan manusia ialah kecelakaan, bencana alam, bencana
perang dan lain-lain. Contohnya ialah tenggelamnya kapal Tampomas Dua di
perairan Masalembo, jatuhnya pesawat Hercules yang mengangkut para perwira muda
di Condet, meletusnya gunung Galunggung, perang Irak-Iran.
Berita mengenai penderitaan
yang dialami manusia silih berganti mengisi lembaran korang, layar televisi dan
berbagai media lainnya. Berita-berita tersebut disebarluaskan dengan tujuan
agar semua yang menyaksikan atau mendapat kabar ikut merasakan penderitaan
sesamanya. Dengan demikian diharapkan dapat menggugah hati manusia untuk
berbuat seseuatu, dan pada kenyataannya tidak sedikitbantuan dari para dermawan
untuk meringankan penderita dan penyelamatan dari musibah tersebut bisa berupa
materi atau hanya sekedar doa saja.
Media masaa merupakan
alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan
kepada masyarakat luas. Dengan demikian masyarakat dapat dengan segera memulai
untuk menentukan sikap antara manusia terutama yang bersimpati. Tetapi tidak kalah
pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya, sehingga para
pembaca, penonton dapat menkhyati penderitaan sekaligus keindahan karya seni.
F.
Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
Apabila kita
kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan,
maka penderitaan manusia dapat diperjelas sebagai berikut :
1.
Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk
manusia. Penderitaan yang
menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia itu sendiri dapat terjadi dalam
hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Penderitaan yang terkadang disebut nasib buruk ini dapat diperbaiki bila
manusia itu mau berusaha untuk memperbaikinya.
2.
Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan
dari Tuhan. Biasanya penderitaan
manusia datang akibat penyakit atau siksaan dari Tuhan. Namun kesabaran,
tawakal dan optimisme merupakan usaha manusia dalam mengatasi penderitaan
tersebut.
Akibat yang terjadi pada penderitaan yaitu
jika penderitaan yang di alami seseorang atau banyak orang tidak dapat di atasi
dengan hati nurani, maka kemungkinan besar akan berdampak pada emosi, dan hal
buruk lainnya.
G.
Pengaruh Penderitaan
Orang yang mengalami
penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh yang bermacam-macam dan sikap
dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positis ataupun sikap
negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan, sikap kecewa, putus asa, atau
bahkan sampai ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul
dalam sikap anti, misalnya anti nikah atau tidak mau nikah, tidak punya gairah
hidup.
Sikap positif yaitu
sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian
penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan
penderitaan itu adalah bagian dari kehidupan. Sikap opositif biasanya
menimbulkan ide kreatif, tidak mudah menyerah, bhakan mungkin timbul sikap
keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin
paksa.
Apabila sikap negatif dan sikap positif ini
dikomunikasikan oleh para seniman kepada para pembaca, penonton, maka para
pembaca dan para penonton akan memberikan penilainnya. Penilaian itu dapat
berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam
masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Keadaan yang sudah tidak sesuai
ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai. Keadaan yang berupa
hambatan harus dihilangkan.
BAB VII
MANUSIA DAN KEADILAN
A.
Pengertian Keadilan
Keadilan adalah kondisi
kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau
orang. Keadilan memiliki pengertian yang sangat luas. Beberapa tokoh telah
menyimpulkan apa arti dari keadilan. Menurut sebagian besar teori, keadilan
memiliki tingkat kepentingan yang besar. Seorang filsuf Amerika Serikat abad
ke-20 menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan pertama dari institusi
sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran". Menurut
Aristoteles, keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan
diartikan sebagai titik tengah di antara kedua ujung ekstrem yang terlalu
banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau
benda.
Menururt Socrates,
keadilan akan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak
pemerintahan sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Menurut Kong Hu Cu
keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja
sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini
terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
Menurut pendapat secara
umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang
antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan
menjalankan kewajiban. Atau bisa dikatakan, keadilan adalah keadaan bila setiap
orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian
yang sama dari kekayaan bersama.
B.
Keadilan Sosial
Negara Indonesia adalah
negara Pancasila adalah negara kebangsaan yang berkeadilan sosial, yang berarti
bahwa negara sebagai penjelmaan manusia sebagai Makhluk Tuhan yang Maha Esa,
sifat kodrat individu dan makhluk sosial bertujuan untuk mewujudkan suatu
keadilan dalam hidup bersama (Keadilan Sosial). Keadilan sosial tersebut
didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan manusia sebagai makhluk yang beradab
(sila II). Manusia pada hakikatnya adalah adil dan beradab, yang berarti
manusia harus adil terhadap diri sendiri, adil terhadap Tuhannya, adil terhadap
orang lain dan masyarakat serta adil terhadap lingkungan alamnya.
Sebagai suatu negara
berkeadilan sosial maka negara Indonesia yang berlandasan Pancasila sebagai
suatu negara kebangsaan, bertujuan untuk melindungi segenap warganya dan seluruh
tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan warganya (tujuan
khusus). Adapun tujuan dalam pergaulan antar bangsa di masyarakat internasional
bertujuan “.....ikut menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dalam pengertian ini maka negara
Indonesia sebagai negara kebangsaan adalah berdasar keadilan sosial dalam
melindungi dan mensejahterakan warganya,demikian pula dalam pergaulan
masyarakat internasional berprinsip dasar pada kemerdekan serta keadilan dalam
hidup masyarakat.
Keadilan dan ketidak
adilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidupnya
manusia mengahadapi keadilan/ketidakadilan setiap hari. Oleh sebab itu keadilan
dan ketidakadilan, menimbulkan daya kreatifitas manusia. Banyak hasil seni
lahir dari imajinasi ketidakadilan, seperti drama, puisi, novel, musi dan
lain-lain.
C.
Berbagai Macam Keadilan
1.
Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan
substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya.
Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang
menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (Tha
man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan, Sunoto
menyebutnya keadilan legal.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian
untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu
masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat jika setiap anggota masyarakat
melakukan fungsinya secara baik menurut kemampuannya. Fungsi penguasa ialah
membagi-bagikan fungsi-fungsi dalam negara kepada masing-masing orang sesuai
dengan keserasian itu.
Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan
terhadap pihak lain yang melasanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu
akan menciptakan pertentangan dan ketidakserasian.
2.
Keadilan Distributif
Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana
ketika hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama
secara tidak sama (justice is done when
equals are treated equally). Sebagai contoh, Budi bekerja selama 30 hari
sedangkan Doni bekerja 15 hari. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan
antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Andaikata
Budi menerima Rp.100.000,- maka Doni harus menerima. Rp 50.000. Akan tetapi
bila besar hadiah Ali dan Budi sama, justru hal tersebut tidak adil dan
melenceng dari asas keadilan.
3.
Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban
masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu
merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang
bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan
menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
D.
Kejujuran
Kejujuran kata dasar
dari jujur yang artinya apa yang dikatakan
seseorang dengan hati nuraninya, apa yang dikatakannya sesuai dengan
kenyataan yang ada atau yang terjadi. Jujur juga berarti seseorang bersih
hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Karena itu
jujur berarti juga menepati janjii atau kesenangan yang terlampir melalui
kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa
kehenda, harapan dan niat.
Pada hakikatnya jujur
atau kejujuran didasari oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan
akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau
dosa.
Kesadaran moral adalah
kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita melihat diri kita sendiri
berhadapan dengan hal baik buruk. Disitu manusia dihadapkan kepada pilihan
antara yang halal dan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Kejujuran bersangkut
erat dengan hati nurani. Hati nurani bertindak sesuai dengan norma-norma
kebenaran akan menjadikan manusianya memiliki kejujuran. Berbagai hal yang
menyebebkan orang memilih untuk tidak jujur, mungkin karena tidak rela, karena
pengaruh lingkungan, sosial ekonomi.
E.
Kecurangan
Kecurangan sangat erat
hubungannya dengan ketidakjujuran dan sama pula dengan licik, meskipun tidak
sama persis. Tetapi sudah jelas bahwa kecurangan sebagai lawan dari kejujuran.
Curang atau kecurangan
artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau orang itu
memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan
tanpa bertenaga dan usaha. Sudah tentu keuntungan itu diperoleh dengan tidak
wajar.
Kecurangan menyebabkan
manusia menjadi serakah, tamak dan ingin menimbun kekayaan yang berlebihan
dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan
senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita.
Bermacam-macam sebab
orang melakukan kecurangan. Ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek
kebudayaan, aspek peradaban dan aspek teknik. Apabila keempat aspek tersebut
dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan
norma-norma moral atau norma hukum.
F.
Perhitungan (HISAB) dan Pembalasan
Dinegara kita ada suatu
lembaga khusus yang menangani kejahatan yaitu POLISI, disini polisi akan
menyelidiki, dan mengungkap berbagai macam kasus kejahatan yang di lakukan oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan yang selanjutnya akan diserahkan
kepengadilan untuk diproses menurut UUD.
Dalam islam kita kenal
yaitu Yaumul hisab yaitu hari perhitungan segala amal dan perbuatan kita semasa
hidup kita didunia. disini manusia yang telah meninggal akan di hitung semua
amal baik dan buruknya jika amal baiknya lebih banyak maka iya akan masuk surga
dan jika amal buruknya jauh lebih banyak maka akan masuk neraka. dan di neraka
inilah segala perbuatan jahat manusia di dunia akan di balas sesuai dengan
banyaknya kejahatan mereka didunia.
G.
Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan
tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap
orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia
menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin
yang tidak ternilai harganya.
Penjagaan nama baik
erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau dapat dikatakan nama
baik atau tida baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud
dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara
bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang,
perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
Pada hakikatnya,
pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya yang
telah diperbuat, bahwa apa yang diperbuatnya tida sesuai dengan ukuran moral
atau tidak sesuai dengan akhlak.
Untuk memulihkan nama baik,
manusia harus bertaubat atau minta maaf. Taubat dan minta maaf tidak hanya
diucapkan dibibir saja, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah,
berbuat budi darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepada sesama
hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang, tanpa pamrih, takwa kepada
Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu
dipupuk.
H.
Pembalasan
Pembalasan ialah suatu
reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa,
perbuatan yang seimbang, tingah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
Dalam Al Qur’an
terdapat ayat-ayat yang menyataan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang
bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah
Tuhan pun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang
seimbang, yaitu siksaan di neraka.
Pembalasan disebabkan
oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang
bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan
yang tidak bersahabat pula.
Oleh karena tiap
manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka
manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. mempertahankan hak
dan kewajiban itu adalah pembalasan.
BAB VIII
MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A.
Pengertian Pandangan Hidup
Setiap manusia
mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu ia
menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan terlebih dahulu apa
arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang
dijadikan pegangan, pedoman, arahan dan petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau
pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman
sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Pandangan hidup dapat
diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
1.
Pandangan hidup
yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
2.
Pandangan hidup
yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat
pada negara tersebut.
3.
Pandangan hidup
hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya
Apabila pandangan hidup
itu diterima ole sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi, maka
pandangan hidup itu disebut ideologi. Jika organisai itu organisasi politik,
ideologinya disebut ideologi politik. Jika organisasi itu negara, ideologinya
disebut ideologi negara.
Pandangan hidup pada
dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan, usaha,
keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang
tida terpisahkan. Cita-cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin saja bisa
didapatkan dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah
kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia,
damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi
keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan dapat diukur dengan kemampuan
akal, kemapuan jasmani dan kepercayaan kepada Tuhan.
B.
Cita – Cita
Menurut kamus umum
bahasa Indonesia, yang disebut cita – cita adalah keinginan, harapan, tujuan
yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan
apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita –
cita merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan
datang. Pada umumnya cita – cita merupakan semacam garis linier yang makin
tinggi, dengan perkataan lain, cita – cita merupakan keinginan, harapan dan
tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.
Apabila cita-cita tidak
mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan.
Disini persyaratan dan kemampuan tidak/belum dipenuhi sehingga usahanya untuk
mewujudkan cita-cita itu tidak mungkin dilakukan.
C.
Kebajikan
Kebajikan atau
perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan
moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agam dan etika. Manusia berbuat
baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas
dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.
Sebagai makhluk
pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa saja yang
buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam
bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan
baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku. Jadi suara hati
dapat menjadi hakim untuk diri sendiri.
Sebagai makhluk Tuhan,
manusiapun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikan
agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidka baik. Jadi,
untuk mengukur perbuatan baik buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau
kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang dimaksud berbentuk hukum Tuhan atau sering
kita dengar sebagai hukum agama.
Jadi kebajikan itu
adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan
hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik,
bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar
tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kebajikan manusia nyata
dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya. Karena tingkah laku bersumber pada
pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri.
Faktor-faktor yang
menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal yaitu :
1.
Pembawaan (Hereditas), yang telah ditentukan pada
saat seseorang masih dalam kandungan.
2.
Lingkungan (Environment), lingkungan yang membentuk
seseorang merupakan alam kedua setelah seorang anak lahir.
3.
Pengalaman, baik
pengalaman pahit yang sifatnya negatif maupun pengalam manis yang sifatnya
positif.
D.
Usaha / Perjuangan
Usaha/perjuangan adalah
kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan.
Perjuangan untuk hidup dan sudah menjadi kodrat manusia. Tanpa
usaha/perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempurna.
Kerja keras itu dapat
dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenagas/jasmani, atau dengan
kedua-duanya. Seperti para ilmuwan bekerja keras dengan otak dan ilmu yang
dimilikunya daripad jasmaninya. Sebaliknya para buruh lebih menggunakan jasmani
daripada otaknya.
Kerja keras pada
dasarnya mengahargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya
pemalas membuat manusia itu miskin dan berarti menjatuhkan harkat dan
martabatnya sendiri.
Untuk bekerja keras
manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas itulah timbul
perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya. Kemampuan
itu terbatas pada fisik dan keahlian/keterampilan. Orang bekerja dengan fisik
lemah memperoleh hasil sedikit, keterampilan akan memperoleh penghasilan lebih
banyak jika dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai
ketrampilan/keahlian. Karena itu mencari ilmu dan keahlian/ketrampilan itu
suatu keharusan.
E.
Keyakinan / Kepercayaan
keyakinan adalah suatu
sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan
bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap,
maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah
jaminan kebenaran. jika keyakinan tidak ada maka keraguan akan muncul, dan
kesalahan akan sering kali menghalangi. Keyakinan sangat penting dalam
kehidupan seperti keyakinan dalam memeluk agama.
Kepercayaan adalah
suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premisi benar.
jika kita yakin dalam satu hal maka kepercayaan akan muncul, keyakinan dan
kepercayaan sangan berdampingan dalam hidup. contoh : pada saat kesulitan
menghampiri maka sangat di perlukan sikap keyakinan dan kepercayaan agar
kesulitan yang di alami dapat di lewatkan.
Keyakinan dan
kepercayaan sangat penting dalm hidup. jadi tidak ada salahnya kita gunakan
keyakinan kita dengan penuh percaya, mudah-mudahan bisa membantu dalam hidup.
F.
Langkah – Langkah Berpandangan Hidup Yang Baik
Manusia seharusnya
mempunyai langkah-langkah berpandangan hidup. Karena hanya dengan mempunyai
langkah-langkah itulah kita dapat memperlakukan pandangan hidup sebagai saran
mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapun langkah-langkah itu sebagai
berikut :
1.
Mengenal
2.
Mengerti
3.
Menghayati
4.
Meyakini
5.
Mengabdi
6.
Mengamankan
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A.
Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab menurut
kamus umum Bahasa Indonesia adalah
keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut
kamus umum bahsa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul, menanggung
segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
Tanggung jawab adalah
kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun
yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajibannya.
Seseorang mau
bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas
segala perbuatan dan akibatnya atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung
jawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan
alam. Manusia tidak boleh berbuat semuanya terhadap manusia lain dan terhadap
alam lingkungannya. Antara manusia dan lingkungan.
Setelah dikaji,
tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi
sebagai akibat dari perbuatan oihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari
perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain.
Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri
atau pihak lain.
Tanggung jawab adalah
ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia
menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu dan menyadari pula bhawa
pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau
meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui
pendidikan, penyuluhan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
B.
Macam – Macam Tanggung Jawab
1.
Tanggung jawab
terhadap diri sendiri
Menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi
kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi.
Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya
sendiri menurut sifat dasarnya manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia
juga seorang pribadi. Karena merupakan seorang pribadi.
2.
Tanggung jawab
terhadap keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil, tiap anggota
keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini
menyangkut nama baik keluarga, tetapi tanggung jawab merupakan kesejahteraan,
keselamatan, pendidikan dan kehidupan.
3.
Tanggung jawab
terhadap masyarakat
Pada hakikatnya manusia tidak bisa hidup sendiri,
sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia
lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut.
4.
Tanggung jawab
kepada Bangsa / Negara
Tiap individu adalah warga negara suatu negara.
Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh
norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat
berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan itu salah, amaka ia harus bertanggung
jawab kepada negara.
5.
Tanggung jawab
terhadap Tuhan
Tuhan
meciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk
mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan.
Sehingga apa yang kita perbuat tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang
tertera dalam kitab suci.
C.
Pengabdian dan Pengorbanan
Pengabdian adalah
perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan
kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat atau satu ikatan dan semua itu dilakukan
dengan ikhlas.
Pengabdian itu pada hakikatnya
adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk
mencukupi kebutuhan, hal itu berarti mengabdia kepada keluarga. Lain halnya
jika kita membantu seseorang dalam kesulitan, mungkin sampai berhari-hari itu
bukan pengabdian tetapi hanya bantuan saja.
Sedangkan arti kata
pengorbanan yang berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan,
sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan
demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan
yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran
moral yang tulus ikhlas semata-mata.
Pengorbanan dalam arti
pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila kita
membaca atauu mendengarkan kotbah agama. Dari kisah para tokoh agama atau nabi,
manusia memperoleh tauladan, bagaimana semestinya wajib berkorban.
Perbedaan antara pengertian
pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu
ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan pengabdian, karena kata
pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya. Tetapi untuk kata
pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.
Pengorbanan merupakan
akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran,
perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahan secara ikhlas
tanpa pamrih, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
Pengabdian lebih banyak
menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengrobanan lebih banyak menunjuk kepada
pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, waktu.
Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu
menuntut pengabdian.
Komentar
Posting Komentar